Kondisi ini umumnya ditandai dengan gangguan buang air kecil dan pada sebagian besar kasus, kanker prostat menyerang pria usia di atas 50 tahun12. Menurut data WHO, kanker prostat merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering dialami oleh pria1.
Penyebab kanker prostat belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker prostat, antara lain pertambahan usia, obesitas, paparan bahan kimia, dan pola makan kurang serat12.
Pengobatan kanker prostat disesuaikan dengan tingkat keparahan kanker dan kondisi pasien secara keseluruhan. Metode pengobatan yang dapat dilakukan adalah operasi, radioterapi, terapi hormon, kemoterapi, dan krioterapi1.
Gejala kanker prostat umumnya tidak muncul pada tahap awal. Namun, jika kanker makin membesar atau kelenjar prostat mengalami peradangan, penderita akan mengalami gejala berupa gangguan buang air kecil12. Berikut adalah beberapa gejala yang mungkin muncul:
- Sering buang air kecil, terutama di malam hari123.
- Sulit memulai atau menghentikan aliran urin1234.
- Aliran urin lemah1234.
- Kencing bocor saat batuk atau tertawa3.
- Tidak bisa buang air kecil sambil berdiri3.
- Buang air kecil tidak tuntas4.
- Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil24.
- Pancaran urine melemah4.
- Darah di urine4.
- Nyeri saat ejakulasi4.
- Nyeri punggung4.
- Nyeri panggul4.
Jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat12.
Berikut adalah beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker prostat:
- Usia: Risiko terkena kanker prostat akan meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah memasuki usia 50 tahun123.
- Riwayat keluarga: Anda berisiko hingga dua kali lipat terkena kanker prostat bila memiliki ayah atau saudara laki-laki dengan riwayat penyakit tersebut12. Bahkan, risikonya jauh lebih tinggi bila saudara laki-laki Anda terkena kanker prostat pada usia muda1.
- Mutasi gen: Beberapa perubahan gen yang diturunkan juga bisa meningkatkan risiko kanker prostat, seperti mutasi gen BRCA1, BRCA2, atau perubahan gen bawaan lahir2.
- Obesitas: Kegemukan atau obesitas disebut dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat stadium lanjut1. Pria yang kelebihan berat badan mendapat risiko tambahan sebesar 8% terkena kanker prostat, sedangkan pria yang obesitas meningkatkan risiko terkena kanker prostat hingga 20%. Bahkan, obesitas yang parah bisa meningkatkan risiko hingga 34%1.
- Pola makan tinggi lemak3.
- Lingkungan yang tercemar pestisida dan herbisida, pola makan, kekurangan vitamin D, dan aktivitas seksual pada tingginya risiko kanker prostat4.
Jika Anda memiliki beberapa faktor risiko ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat12.
Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker prostat:
- Kurangi konsumsi lemak hewani dan produk susu: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan tinggi lemak, seperti daging merah (sapi, babi, domba) dan produk susu (susu, keju), merupakan salah satu faktor risiko kanker prostat1.
- Perbanyak makan sayuran dan buah: Kedua jenis makanan ini mengandung nutrisi, vitamin, dan serat tinggi yang dapat meningkatkan kesehatan tubuh, yang secara tidak langsung dapat menjadi pencegah kanker prostat1.
- Minum teh hijau dan susu kedelai1.
- Hindari merokok: Merokok juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker prostat agresif, yaitu jenis kanker yang penyebarannya lebih cepat1.
- Olahraga secara teratur1.
- Jaga berat badan tetap ideal1.
- Tidak mengonsumsi suplemen vitamin E tambahan1.
- Konsumsi kacang kedelai: Kacang kedelai mengandung komponen kimia berupa isoflavon. Senyawa ini memiliki kemampuan anti inflamasi sehingga risiko kanker prostat juga dapat diturunkan2.
- Minum Kopi: Sebuah penelitian menyatakan bahwa minum 3 gelas kopi sehari dapat menurunkan risiko kanker prostat fatal sebanyak 11 persen2.
Jika Anda memiliki beberapa faktor risiko ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat1.



.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar